Islam itu Indah, Islam itu Damai


Islam Megibung


Megibung merupakan tradisi yang dimiliki oleh warga Karangasem, yang daerahnya terletak di ujung timur Pulau Dewata, Bali, Indonesia.

Megibung merupakan tradisi yang dimiliki oleh warga Karangasem, yang daerah terletak di ujung timur Pulau Dewata, Bali, Indonesia. Megibung berasal dari kata gibung yang diberi awalan me-. Gibung artinya kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang, yakni saling berbagi antara satu orang dengan yang lainnya. Megibung adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang untuk duduk makan bersama dan saling berdiskusi dan berbagi pendapat.

Tradisi Megibung diperkenalkan oleh Raja Karangasem yaitu I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem sekitar tahun 1614 Caka atau 1692 Masehi.

Tradisi ini dibawa oleh I Gusti Agung Anglurah Ketut Karangasem saat menang perang dalam menaklukan kerajaan-kerajaan di SasakLombok. Dahulu, saat prajurit sedang makan, Sang Raja membuat aturan makan bersama dalam posisi melingkar yang dinamakan Megibung. Bahkan, Sang Raja ikut makan bersama dengan para prajuritnya.

Lantas apa hubungannya dengan umat Muslim? Ternyata tradisi Megibung tidak hanya dilakukan oleh umat Hindu saja. Umat Muslim juga ada yang mempraktikannya.

Di Salah sati Kampung Islam tepatnya di Kepaon Denpasar, tradisi Megibung masih bisa dijumpai, dan dipraktikan secara turun temurun.

Kegiatan ini dilakukan bersamaan dengan waktu berbuka puasa di Masjid Al-Muhajirin. Megibungan dilakukan tiap kelipatan 10 hari di bulan Ramadan. Artinya, Megibung bisa dilakukan sebanyak tiga kali yakni pada hari ke-10, ke-20, dan ke-30 Ramadan.

Tradisi ini bermula ketika agama Islam masuk ke Bali. Ketika itu, umat Muslim dari berbagai suku seperti Melayu, Jawa, Madura, Bugis dan Lombok sudah bermukim di Pulau Dewata.

Umat Muslim yang bermukim tersebut kemudian berpikir untuk menyatukan diri. Maka dibuatlah sebuah paguyuban.

Salah satu program kerja paguyuban yakni mengkhatamkan Al-Quran setiap bulan Ramadan. Dan ketika khatam Al-Quran maka dilakukanlah tasyakuran.

Dari sana, jumlah anggota paguyuban terus berkembang. Kini, setiap kali tasyakuran digelar dengan cara makan bersama.

Megibung bukan sekedar makan bersama. Justru tradisi itu yang mempersatukan umat Muslim Bali agar tidak mudah terpecah. Terlebih saat paguyuban dibentuk, Indonesia masih dijajah Belanda.

Setiap megibung digelar, panitia selalu mengikutsertakan anak muda dan anak-anak. Sementara, mengenai menu makanan, warga dengan sukarela memberikan sumbangan kepada masjid.

Tak hanya di Kampung Islam Kepaon Denpasar, di singaraja tradisi tersebut juga digelar di Kelurahan Kampung Singaraja yang berlokasi tidak jauh dari Puri Singaraja.

Tal jauh berbeda dengan di Kampung Islam Kepaon Denpasar, tradisi Megibung yang dilakukan bersama itu juga sebagai tali silaturahmi untuk merekatkan kebersamaan, sehingga pelaksanaan megibung menjadi hal yang ditunggu masyarakat di Kampung Singaraja.

Dalam puncak acara tradisi Megibung di Kelurahan Kampung Singaraja itu melibatkan seluruh masyarakat dan undangan yang dipusatkan di halaman Masjid Nurrahman, para warga Muslim saling berbagi sebagai wujud syukur di hari lebaran yang fitri tersebut.



Tinggalkan Komentar


© 2018 Buletin Dakwah Muslim Bali